Pesantren adalah ruang untuk belajar, bertumbuh, dan membentuk karakter dengan kedisiplinan dan kemandirian. Santri tidak hanya dididik dengan nilai-nilai agama, namun juga dibekali dengan penguatan akademik, agar kelak mampu menjadi pribadi yang unggul, berintegritas, dan siap menghadapi tantangan zaman dengan bekal ilmu yang seimbang.
Dalam rangka mendorong terwujudnya hal tersebut, Pesantren Baitul Quran Sragen menggelar “Seminar Penguatan Budaya Akademik dan Pengembengana Diri” yang dilaksanakan secara terpisah dalam dua pertemuan. Kegiatan ini merupakan agenda rutin yang dilaksanakan satu kali dalam satu semester.
Penguatan Budaya Akademik
Santri BeQi didorong untuk memiliki budaya akademik yang kuat. Ilmu pengetahuan kian berkembang, akses informasi lebih mudah untuk dijangkau, dan santri sebagai salah satu bagian dari generasi penerus bangsa dituntut untuk adaptif, cerdas, dan bijak dalam menyikapi perubahan.







Dengan bekal ilmu agama dan penguatan akademik, santri diharapkan mampu menjadi agen perubahan yang membawa nilai-nilai kebaikan dalam berbagai bidang kehidupan seperti sosial, pendidikan, teknologi, hingga kepemimpinan. Melalui penguatan budaya akademik, santri diharapkan tidak hanya “hanyut” dalam arus informasi, namun santri BeQi memiliki integritas, kedisiplinan, serta kemandirian dalam belajar.
Pengembangan Diri Mendorong Santri Tetap Relevan
Tak hanya memperkuat budaya akademik santri, Pesantren Baitul Quran Sragen juga memfasilitasi santri untuk terus berkembang agar tetap relevan dengan perubahan zaman. Di semester gasal TA 2025/2026, seminar pengembangan diri santri mengusung tema “Penguatan Bahasa Inggris Santri”.





Di satu sisi, pesantren memang kental sekali kaitannya dengan penggunaan Bahasa Arab, namun di sisi lain, penggunaan bahasa Inggris sebagai bahasa internasional juga memiliki peran strategis untuk dipelajari.
Bahasa Arab memperdalam pemahaman terhadap sumber-sumber ajaran Islam, sementara Bahasa Inggris membuka akses terhadap ilmu pengetahuan modern, komunikasi global, serta peluang pendidikan dan karier di tingkat internasional.
Oleh karena itu, penting bagi pesantren untuk menumbuhkan lingkungan yang mendorong penguasaan kedua bahasa tersebut, agar santri mampu bersaing secara global tanpa kehilangan akar keislamannya.
