Jurnalis: Aisya Majid (Kelas XI)
Tembang macapat itu susah, jadul dan asing. Itulah yang ada dalam pikiran Aurillia Nurunnisa, saat pertama kalinya mengenal tembang macapat pada tahun pertamanya di Sekolah Dasar. Gadis yang lebih akrab disapa dengan panggilan Lia ini adalah seorang anak yang suka menyanyi. Namun, Ia tidak cukup menaruh minat pada tembang-tembang macapat yang menurutnya susah dan jadul itu. Belum lagi bahasa yang menyertainya adalah Bahasa Jawa Krama, bahasa yang bahkan ia tidak cukup memahaminya.
Hingga suatu hari pada tahun kelimanya di jenjang Sekolah Dasar. Lia dan salah satu teman laki-lakinya serta merta ditunjuk oleh pihak sekolah sebagai perwakilan lomba di bidang tembang macapat. Ia tentu merasa bimbang dengan pikiran yang dipenuhi rasa pesimis. Hal itu karena Ia tidak berhasil maju di babak final pada dua perlombaan menyanyi sebelumnya. Dengan demikian, Ia tidak cukup yakin untuk kembali unjuk diri, belum lagi disertai tantangan perlogatan Bahasa Jawa pada tembang macapat yang memerlukan ketelitian tinggi. Ia terus-menerus termangu pada ragu dan takut. Ia terlalu enggan melanjutkan perjalanan lantaran kecemasan atas kegagalan yang disangkanya akan menghadang.
Akan tetapi di sisi lain, pihak keluarga dan kedua orang tuanya terus mendorong serta meyakinkannya. “Tidak apa-apa Nduk, dicoba saja. Kalau menang alhamdulillah, kalau ternyata belum berhasil ya dijadikan pengalaman saja.” Kalimat itulah yang terus terngiang pada pikiran Lia selama berhari-hari. Hingga kemudian perlahan-lahan rasa pesimis dan keraguan pada hatinya luluh sempurna. Alhasil Lia menyanggupi amanah tersebut dan memulai langkah awal perjuangan bersama teman sejawatnya untuk menyelami segala tentang tembang macapat lebih dalam.
Segala upaya pun telah diusahakan oleh pihak sekolah, termasuk mendatangkan mentor berpengalaman dari luar sekolah. “Beliau sudah sepuh, umurnya menginjak kurang lebih angka 70-an,” ungkap Lia dalam sesi wawancara. Namun, dari beliaulah Lia mendapat berbagai kisah dan pengalaman yang nantinya akan menginspirasi setiap prosesnya mengenal tembang macapat.
Dari beberapa proses yang telah dilewatinya, Lia perlahan menyadari bahwa tembang macapat tidaklah begitu buruk seperti yang ada dalam pikirannya terdahulu. Dalam tembang macapat Lia perlahan mengenal makna yang mendalam, terutama pada tembang gambuh yang menurutnya relevan dengan dirinya kala itu. Lia merasakan dirinya seakan hanyut pada setiap alunan nada yang dilantunkannya dengan khidmat.
Limpahan inspirasi dan semangat yang dicurahkan oleh mentor, keluarga, dan orang tuanya membantu Lia beproses dengan semangat yang membara. Berbagai tantangan dan kesulitan dihadapinya dengan berbekal tekad yang kuat. Oleh karena adanya kemauan dan perjuangan yang dikerahkan, Lia berhasil meraih juara fantastis pada perlombaan pertamanya. Juara satu.
Senyum sumringah menghiasi wajahnya seusai hasil diumumkan. Tentunya bukan hal yang biasa saat di percobaan pertama seseorang mendapatkan hasil terbaiknya. Sebab itulah mentor, orang tua, hingga keluarga yang selalu mendukungnya turut berbangga hati pada pencapaian menakjubkan Lia saat itu. Dari pencapaiannya yang luar biasa tersebut, Lia mendapatkan jalan untuk melanjutkan perjuangannya di tingkat Kabupaten. Sampai pada akhirnya, Ia berhasil berdiri di panggung kemenangan dengan menggenggam piala juara kedua.
Seperti kata pepatah, istirahat adalah perpindahan dari satu perjuangan ke perjuangan yang lainnya. Pada tahun 2025 lalu, saat Lia memulai langkah awal di tahun terakhirnya pada jenjang SMP di pesantren. Yang telah lama ditunggu kembali tiba. Api yang telah lama meredup kembali berkobar. Ia berhasil terpilih sebagai salah satu dari dua perwakilan sekolahnya untuk mengikuti lomba FTBI (Festival Tunas Bahasa Ibu) bidang tembang macapat.
Akan tetapi bukanlah sebuah perjuangan apabila segalanya hanyalah kemudahan. Antusiasme dan kebahagiaan itu hanya dirasakannya sejenak, ketika mengetahui bahwa dirinya tidak memiliki izin dari pihak pesantren untuk menggunakan device secara pribadi. Ditambah lagi dengan jatah latihan Lia bersama pendampingnya hanya sekitar tiga hingga empat kali selama beberapa minggu hingga perlombaan dilaksanakan. Selebihnya ia hanya bisa berlatih mandiri, tanpa device apalagi pendamping.
Hari demi hari dilaluinya dengan ragu. Semangatnya mulai terkikis sedikit demi sedikit, terasa suasana putus asa pada setiap akhir latihannya. Rasa frustasi berangsur-angsur mengungkung pikirannya. Jika terus begini maka aku bisa apa? Dari manakah dan dengan apakah aku bisa kembali berlatih? Solusi demi solusi berusaha dicetuskannya satu per satu. Hingga suatu hari, Ia mendapat ide untuk meminjam device pada wali asramanya. Syukurlah Tuhan memudahkan, akhirnya Ia mendapat izin untuk kembali berlatih secara mandiri dengan bantuan device dari wali asramanya.
Walaupun begitu, waktu kian menipis, Lia belum berhasil untuk berlatih secara maksimal hingga hari perlombaan. Ia berangkat dari pesantrennya dengan perasaan kalut. Rasa cemas dan ragu pun kembali membelenggu pikirannya. Sesampainya di lokasi perlombaan, Ia melangkah memasuki ruang lombanya dengan perlahan, menatap gamang pada puluhan orang yang ada di hadapan. Apakah aku akan berhasil? Kalimat itu terus terulang dalam pikirannya. Menggerogoti keyakinan yang sebelumnya kokoh padanya.
Jarum jam seakan bergulir semakin cepat hingga kontestan terakhir maju. Lia yang secara kebetulan mendapat nomor urut cukup awal telah menyelesaikan penampilannya sedari tadi. Cemas dan ragu perlahan berderai bersamaan dengan waktu yang terus berjalan.
Ia berjalan gontai menuju luar ruangan. Rasa lega dan pasrah bercampur menjadi satu. Setidaknya aku telah melewatinya dengan lancar, ujarnya pada diri sendiri. Walaupun di sisi lain Ia tidak cukup puas dengan hasil latihan yang menurutnya kurang maksimal itu.
Tak diduga, Lia yang telah melupakan kecemasannya dan sibuk menjajal makanan-makanan ringan yang dijual di sekitar lokasi lombanya, tiba-tiba diminta untuk kembali ke ruangan lomba bersama keempat peserta yang lain. Matanya membulat lebar, agaknya Ia telah berhasil lolos ke babak final yang tak disangkanya itu. Pikirannya seperti diubrak-abrik dalam waktu singkat. Ia bingung antara harus senang karena masuk babak final atau cemas karena kesiapannya jauh dari kata sempurna.
Kecemasan yang begitu besar perlahan ditangkisnya. Aku hanya perlu yakin dan melakukan yang terbaik! Ujarnya dalam hati. Hingga tibalah namanya dipanggil untuk tampil kembali di babak yang terakhir. Sekejap Ia merasa gugup mendapati jumlah juri yang bertambah, walau demikian Ia dapat mengendalikan rasa gugupnya dan berhasil tampil maksimal.
Sesi pengumuman pemenang pun tiba. Lia menunggu dengan sabar dan tenang. Ia tidak berharap banyak pada hasilnya. Seperti kata orang tuanya, “Kalau menang alhamdulillah, kalau belum berhasil ya dijadikan pelajaran saja.” Hingga tiba-tiba, mata Lia benar-benar membulat sempurna, namanya disebut sebagai juara ketiga lomba FTBI tembang macapat kategori putri.

Ternyata benar, jika seseorang benar-benar mau berusaha, maka Tuhan akan berikan hadiah yang setara. Dari berbagai upaya dan perjuangan yang dilewatinya, dari berbagai suka dan duka yang dirasakannya, Lia berhasil mengenal tembang macapat dengan baik. Dari tembang-tembang itu, Dia belajar dan berproses menghadapi segala kesulitan yang datang menghadang. “Tembang macapat itu bukan sekadar nyanyian berbahasa Jawa, namun juga perannya sebagai bagian dari warisan budaya Indonesia.”
Baginya Tembang macapat akan selalu memiliki makna yang dalam, sehingga ketika Ia melantunkannya, dirinya seakan terhanyut pada makna-makna indah. Iringan nada selalu menenggelamkannya pada suasana. Besarnya kepedulian Lia terhadap kelestarian tembang macapat dituangkannya dalam pesan, “Aku berharap, semoga generasi-generasi masa kini hingga generasi yang akan datang, akan selalu mengenal dan melestarikan tembang macapat sebagai bagian dari pusaka bangsa Indonesia.”
